06 October 2008

Puisi

Rahasia hati tak pantas dikatakan
Biarlah tetap jadi rahasia
Seperti malam yang tergantikan
Pucat fajar penyimpan embun di akasia
Biarlah dia melayang dalam hangat pagi
Terurai dalam sengat panas jalanan
Merunduk di ufuk senja hari
Terpeluk kembali oleh ranjang yang nyaman
Bergelut dalam mimpi melawan kenyataan
Air mata di larut malam
Saksi kekecewaan
Terdalam
Winda Neville Cobain

Heem...


Sekarang tahun 2008, dan hampir berakhir. Dan aku kangen kenangan bulan Oktober-November tahun lalu. Kkn yang kulalui kemaren memang sudah lama berlalu. Tapi ternyata Ijonk n Heri masih aja mau membagi pulsa mereka cuma untuk mengingatkanku tentang peristiwa setahun yang lalu itu. Saat kami berkenalan pertama kali saat coaching dan saat masih pusing2 menyiapkan proker. Hahahaha…masa2 yang menyenangkan tuk dikenang. Kakak2ku yang baek hati…hahahaha…
Iya iya aku engga bakal lupa ma kalian kok. Sampai kapanpun.
Karena kalian, aku sadar bahwa di dunia ini benar2 ada yang dinamakan “surga”. Seperti doa Bapa Kami, “..di atas bumi seperti di dalam surga”. Dan kurasa aku telah menemukan surga itu. Letaknya tidak jauh dan ternyata jauh berbeda dengan bayanganku. Selama ini aku terbiasa membayangkan surga itu penuh pohon yang rindang, hijau, dan banyak berbuah yang nikmat. Semuanya subur dan mudah mendapatkannya. Ternyata mataku terbuka untuk melihat surga yang sebenarnya. Daerah Gunung Kidul tempatku selama sebulan tinggal bersama mereka adalah surgaku. Pemandangan yang kulihat untuk menuju “rumah” sementara kami disana itulah surgaku. Aku terpesona dan kagum melihat betapa indah dan menakjubkan alam yang ada disana. Memang pohon rindang dan hijau jarang ditemukan dalam jumlah banyak, tapi ternyata disitulah keindahan yang ada. Dengan bingkai perbukitan kapur dan ladang kering disepanjang jalan, disitu justru mataku terpaku. Keindahan tidak selalu harus indah. Kita bisa menemukan keindahan itu dari kesederhanaan dan apa adanya. Dan terkadang justru dalam keterbatasan itulah kita bisa menemukan keindahan kalo hati kita jeli.

NG2