Sabar itu perlu kesabaran
Tanggal 26 Maret 2008 yang lalu, simbah putriku dari bapakku telah berpulang ke hadirat-Nya. Sedih dan lega berkecamuk dalam diriku. Aku sedih karena kepergian simbah, tapi aku lega karena kesusahan simbah sudah hilang. Kondisi simbahku beberapa waktu belakangan ini memang sudah menurun. Yah, memang sudah ‘sepuh’ juga. Jadi kami sekeluarga bisa menerima dengan lebih sabar. Aku hanya bisa berdoa, “ Ya Tuhan Yesus, ampunilah segala dosa simbah dan terimalah disisimu serta berilah istirahat kekal pada simbah. Amin. ”
Aku ga ngerti juga kenapa rasanya akhir2 ini aku mengalami banyak hal yang kupikir diluar batas kemampuan bertahanku. Aku merasa terpuruk sebenarnya. Dengan berbagai perasaan yang berputar2 dalam diriku. Antara sedih dan perasaan ingin bertahan, karena aku yakin suatu hari nanti aku bisa tersenyum kembali. Terima kasih buat seseorang yang selalu ada buat menemaniku, Andhika jelek yang ga bosan2 bilang, “ Jangan lupa makan ya.” Andhika yang selalu mengkhawatirkanku, makasih ya Ka. Terima kasih buat rasa sayangmu buatku. Tanpamu aku ga bisa tertawa lagi. Meski banyak yang mencibirku, aku masih bisa tersenyum dengan kehadiranmu disampingku.
Aku ga ngerti juga kenapa rasanya akhir2 ini aku mengalami banyak hal yang kupikir diluar batas kemampuan bertahanku. Aku merasa terpuruk sebenarnya. Dengan berbagai perasaan yang berputar2 dalam diriku. Antara sedih dan perasaan ingin bertahan, karena aku yakin suatu hari nanti aku bisa tersenyum kembali. Terima kasih buat seseorang yang selalu ada buat menemaniku, Andhika jelek yang ga bosan2 bilang, “ Jangan lupa makan ya.” Andhika yang selalu mengkhawatirkanku, makasih ya Ka. Terima kasih buat rasa sayangmu buatku. Tanpamu aku ga bisa tertawa lagi. Meski banyak yang mencibirku, aku masih bisa tersenyum dengan kehadiranmu disampingku.


0 Comments:
Post a Comment
<< Home